🌊 MOTIF KHAS MELAYU PONTIANAK

Corak Insang

Corak Insang adalah motif tenun khas Melayu Pontianak yang bentuknya dikaitkan dengan insang ikan dan kehidupan di tepi Sungai Kapuas. Dalam ETNOSTATS-AR, motif ini menjadi konteks pembelajaran statistika Level 2, yaitu penyajian data: menghitung frekuensi warna pada kain, menyusun tabel, dan membuat diagram batang serta lingkaran.

Songket Corak Insang Melayu Pontianak
🌊 Songket Corak Insang Melayu Pontianak

📖 Tentang Corak Insang

Corak Insang dikenal sebagai identitas kain tenun Pontianak. Motifnya dapat muncul pada tenun tampal, songket, dan tenun ikat (Nugraha & Kartini, 2018), dan pembuatannya pada penelitian mereka memakan waktu sekitar satu minggu. Pewarna tradisionalnya berasal dari tumbuhan lokal (Rasyid, 2025).

📍 Asal dan Sejarah

Kain ini berkaitan dengan Kesultanan Kadriyah Pontianak yang berdiri pada 1771 dan dikaitkan dengan Sungai Kapuas. Corak Insang ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTB) Indonesia pada 2017 (Rasyid, 2025). Makna simbol motifnya sendiri belum banyak didukung bukti fisik maupun dokumen sejarah (Nugraha & Kartini, 2018).

📊 Motif dan Etnostatistik

Motif berulang membuat unsur visual, misalnya warna, dapat dihitung. Frekuensi tiap warna lalu disajikan dalam tabel, persentase, diagram batang, dan diagram lingkaran. Pola garis diagonalnya juga dibahas dalam etnomatematika (Jamilah & Nurmaningsih, 2024).

📚 Corak Insang dan Penyajian Data

Pada Level 2, data mentah dirapikan menjadi tabel frekuensi, lalu divisualisasikan dalam diagram yang sesuai.

🌊 Konteks Pembelajaran

Bayangkan peserta didik memotret selembar kain Corak Insang, lalu menghitung 60 unit motif berdasarkan warna dominannya. Angka pada halaman ini adalah contoh simulasi dari kegiatan itu, bukan hasil pencacahan kain sebenarnya. Tidak ditemukan publikasi yang memuat proporsi warna pada Corak Insang.

📋 Tabel Frekuensi Warna Motif

Persentase = frekuensi / total × 100%.

Warna DominanFrekuensi (unit)Persentase
Biru2135%
Kuning1525%
Merah muda1220%
Krem1220%
Total60100%

* Contoh data pembelajaran (simulasi), bukan hasil pengamatan kain sebenarnya.

📊 Diagram Batang

Diagram batang memudahkan membandingkan frekuensi antarwarna.

🥧 Diagram Lingkaran

Diagram lingkaran menunjukkan bagian tiap warna terhadap keseluruhan 60 unit.

📚 Interpretasi Statistik

Analisis sederhana berdasarkan contoh data pembelajaran etnostatistika.

🌊 Hasil Interpretasi

Dari 60 unit, warna dengan frekuensi tertinggi adalah Biru sebanyak 21 unit atau 35%. Warna terendah adalah Merah muda dan Krem, masing-masing 12 unit atau 20%. Selisih biru dan kuning adalah 6 unit atau 10 poin persentase.

Karena dua warna memiliki frekuensi sama terendah, data ini tidak punya satu kategori terkecil. Diagram lingkaran dan diagram batang menyampaikan informasi yang sama; batang lebih mudah untuk membandingkan, lingkaran lebih mudah untuk melihat bagian terhadap keseluruhan.

Catatan makna: mengaitkan biru dengan Sungai Kapuas hanyalah tafsiran populer, bukan fakta yang terbukti dari data. Data frekuensi hanya menunjukkan warna mana yang paling banyak, bukan mengapa.

🎓 Aktivitas Peserta Didik

  1. Tentukan warna dengan frekuensi tertinggi pada tabel.
  2. Hitung selisih persentase antara warna biru dan kuning.
  3. Foto selembar kain Corak Insang, hitung unit warnanya sendiri, lalu buat tabel dan diagram batang.
  4. Bandingkan hasil hitungan kelompokmu dengan kelompok lain. Mengapa bisa berbeda?

🔎 Fakta dari Literatur

Informasi berikut dilaporkan sumber dan bukan bagian dari data simulasi di atas.

InformasiNilaiSumber
Penetapan Warisan Budaya Takbenda (WBTB)2017Rasyid (2025)
Berdirinya Kesultanan Kadriyah Pontianak1771Rasyid (2025)
Waktu pembuatan tenun (hasil penelitian 2016)sekitar 1 mingguNugraha & Kartini (2018)
Gradien dua garis sejajar pada pola motif (kajian etnomatematika)11/4Jamilah & Nurmaningsih (2024)

Gradien 11/4 berasal dari garis yang melewati titik (−6, −5) dan (−2, 6) serta (1, −5) dan (5, 6) pada model matematis motif; ini contoh yang dapat dikembangkan pada Level 12 (regresi linear).

🎨 Tafsiran Populer Makna Warna

Makna berikut berasal dari tafsiran populer pada versi halaman sebelumnya. Tidak ditemukan sumber ilmiah yang memastikannya.

WarnaTafsiran populer
BiruSungai Kapuas
KuningKemuliaan Melayu
Merah mudaKeharmonisan
KremKeseimbangan

🔎 Sumber dan Catatan Data

📚 Rujukan

Nugraha, M. T., & Kartini. (2018). The History and Values Contained in Corak Insang Weave in Pontianak Malay's. IBDA': Jurnal Kajian Islam dan Budaya, 16(1). ejournal.uinsaizu.ac.id

Jamilah, & Nurmaningsih. (2024). Eksplorasi Etnomatematika pada Tenun Corak Insang Melayu Pontianak. JRPMS (Jurnal Riset Pembelajaran Matematika Sekolah), 8(1). journal.unj.ac.id

Rasyid, F. S. (2025, 12 Februari). Tenun Corak Insang, warisan budaya Pontianak yang masih eksis. Good News From Indonesia. goodnewsfromindonesia.id

Catatan: (1) Angka pada tabel frekuensi dan diagram adalah contoh data pembelajaran, bukan temuan penelitian, dan tidak boleh dikutip sebagai data empiris. Versi halaman sebelumnya menyajikan komposisi 35/25/20/20 sebagai "hasil analisis visual" tanpa sumber, sehingga kini dinyatakan sebagai simulasi. (2) Jamilah & Nurmaningsih mengaitkan motif ini dengan tahun 1771 sampai 1808 pada masa Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie; sumber lain hanya menyebut berdirinya kesultanan pada 1771. (3) Nugraha & Kartini (2018) menyimpulkan bahwa bukti fisik dan sejarah untuk makna motif masih sedikit.

🧺 Koleksi Kerajinan Lainnya

Jelajahi kerajinan tradisional Kalimantan Barat lain yang sudah menjadi media pembelajaran statistika di ETNOSTATS-AR.

📱 Integrasi ETNOSTATS-AR

Melalui ETNOSTATS-AR, peserta didik dapat mempelajari budaya lokal Kalimantan Barat secara interaktif. Marker Corak Insang dapat dipindai untuk menampilkan visualisasi motif, informasi edukatif, dan materi pembelajaran berbasis Augmented Reality.