Sollokanong merupakan seperangkat alat musik tradisional Dayak yang terdiri atas beberapa gong kecil dengan nada berbeda. Dalam ETNOSTATS-AR, Sollokanong digunakan sebagai konteks pembelajaran distribusi data berkelompok dan histogram.
Sollokanong merupakan alat musik tradisional yang dimainkan dengan cara dipukul dan menghasilkan susunan nada tertentu. Alat musik ini digunakan dalam berbagai kegiatan budaya, pertunjukan seni, dan upacara adat masyarakat Dayak.
Sollokanong dikenal pada berbagai komunitas Dayak di Kalimantan Barat dan menjadi bagian dari kekayaan musik tradisional yang diwariskan secara turun-temurun.
Data latihan pemain Sollokanong dapat digunakan untuk mempelajari distribusi data berkelompok, tabel distribusi frekuensi, histogram, dan interpretasi data statistik dalam konteks budaya.
Dalam etnostatistika, budaya dapat menjadi sumber data pembelajaran yang kontekstual. Data latihan pemain Sollokanong dapat dikelompokkan ke dalam interval kelas untuk mempelajari distribusi frekuensi berkelompok.
Misalkan dilakukan pengamatan terhadap jumlah pukulan pemain Sollokanong dalam satu sesi latihan. Data kemudian dikelompokkan ke dalam beberapa interval kelas sehingga dapat digunakan untuk mempelajari distribusi data berkelompok dan histogram.
Contoh data pembelajaran berikut digunakan untuk mempelajari distribusi data berkelompok. Data ini merupakan simulasi pembelajaran dan bukan data penelitian lapangan.
| Interval Pukulan | Frekuensi | Frekuensi Kumulatif |
|---|---|---|
| 10 - 14 | 2 | 2 |
| 15 - 19 | 4 | 6 |
| 20 - 24 | 6 | 12 |
| 25 - 29 | 3 | 15 |
| 30 - 34 | 2 | 17 |
| Total | 17 | 17 |
Histogram digunakan untuk menampilkan distribusi frekuensi data berkelompok berdasarkan interval kelas.
Analisis sederhana berdasarkan distribusi frekuensi data latihan pemain Sollokanong.
Berdasarkan tabel distribusi frekuensi,
interval dengan frekuensi tertinggi adalah
20–24 pukulan dengan jumlah
6 siswa.
Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar
siswa menghasilkan jumlah pukulan pada
rentang tersebut selama latihan.
Frekuensi kumulatif menunjukkan bahwa
hingga interval 20–24 terdapat
12 siswa yang telah terdata.
Melalui distribusi data berkelompok,
peserta didik dapat memahami cara
mengelompokkan data numerik ke dalam
kelas-kelas interval dan menyajikannya
dalam bentuk histogram.
Pendekatan ini memperlihatkan bahwa
musik tradisional Sollokanong dapat
menjadi sumber pembelajaran statistika
yang kontekstual melalui etnostatistika.
Jelajahi berbagai warisan musik tradisional Kalimantan Barat yang telah diintegrasikan ke dalam ETNOSTATS-AR sebagai media pembelajaran statistika berbasis budaya.
Media pembelajaran distribusi frekuensi dan penyajian data menggunakan diagram batang.
Media pembelajaran persentase dan diagram lingkaran berbasis budaya Dayak.
Media pembelajaran peluang empiris berdasarkan hasil pengamatan bunyi.
Media pembelajaran mean, median, dan modus menggunakan data latihan.
Media pembelajaran distribusi data berkelompok, frekuensi kumulatif, dan histogram.
Melalui ETNOSTATS-AR, peserta didik dapat mempelajari budaya lokal Kalimantan Barat secara interaktif. Marker Sollokanong dapat dipindai untuk menampilkan objek budaya, materi statistika, visualisasi data, dan pengalaman belajar berbasis Augmented Reality.